Sabtu, 01 Agustus 2015

PRE PLANNING PENKES METODE MARMET



PRE PLANNING
PENYULUHAN KESEHATAN
METODE MARMET UNTUK PENGELUARAN ASI DI RUANGAN CAMAR 1 RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU
 

A.       Latar Belakang
Payudara adalah sepasang kelenjar mamae yang terletak diantara tulang iga kedua dan keenam. Sekitar dua pertiga payudara terletak diatas otot pektoralis mayor, antara sternum dan garis aksilaris tengah, dengan perluasan kearah aksila yang disebut sebagai ekor Spence. Sepertiga bagian bawah payudara terletak melekat diatas otot seratus anterior (Bobak, 2005).
Payudara adalah perlengkapan organ reproduksi wanita dan pada masa laktasi akan mengeluarkan air susu. Payudara juga merupakan aset milik wanita yang paling berharga, tetapi sering dianggap sebagai bagian tubuh yang tabu sehingga tidak boleh dibicarakan. Oleh karena itu, banyak yang tidak mengetahui apa saja yang harus dilakukan terhadap kesehatan payudara (Saryono & Pramitasari, 2009).
Menurut WHO, ASI ekslusif adalah air susu ibu yang diberikan pada enam bulan pertama pada bayi baru lahir tanpa adanya makanan pendamping lain. Menurut laporan tahun 2000 WHO, ± 15 % bayi di seluruh dunia diberi ASI eksklusif selama 4 bulan dan seringkali pemberian makanan pendamping ASI tidak sesuai dan tidak aman sehingga menyebabkan ± 1, 5 juta anak meninggal karena pemberian makanan yang tidak benar. Pada tahu  2000, survey kesehatan demografo WHO menemukan bahwa pemberian ASI ekslusif selama 4 bulan pertama sangat rendah terutama di afrika tengah dan utara, Asia dan Amerika latin. Oleh karena itu, WHO menganjurkan agar bayi diberi ASI ekslusif selama 6 bulan pertama sebab terbukti bahawa menyusu ASI ekslusif selama 6 bulan menurunkan angka kematian dan kesakitan pada umumnya disbanding menyusu selama 4 bulan.
Penelitian yang dilakukan oleh Ahluwia, Morrow, dan Hsia (2005) ditemukan bahwa ibu-ibu berhenti menyusui bayinya pada bulan pertama post partum disebabkan karena puting lecet, kesulitan dalam melakukan perlekatan yang benar serta persepsi mereka tentang ketidak cukupan produksi ASI ibu sehingga tidak dapat memuaskan bayi. Begitu juga yang ditemukan di Ruangan Camar 1 RSUD Arifin Achmad, masih banyak ibu yang memberikan susu formula pada bayi yang dikarenakan produksi air susu yang sedikit, ibu kesulitan dalam melakukan perlekatan yang benar.
Menyusui dini di jam-jam pertama kelahiran jika tidak dapat dilakukan oleh ibu akan menyebabkan proses menyusu tertunda, maka alternatif yang dapat dilakukan adalah memerah atau memompa ASI selama 10-20 menit hingga bayi dapat menyusu. Tindakan tersebut dapat membantu memaksimalkan reseptor prolaktin dan meminimalkan efek samping dari tertundanya proses menyusui oleh bayi (Evariny, 2008). Teknik memerah ASI yang dianjurkan adalah dengan mempergunakan tangan dan jari karena praktis, efektif dan efisien dibandingkan dengan menggunakan pompa. Caranya memerah ASI menggunakan cara Cloe Marmet yang disebut dengan Teknik Marmet yang merupakan perpaduan antara teknik memerah dan memijat.
Memerah dengan menggunakan tangan dan jari mempunyai keuntungan selain tekanan negatif dapat diatur, lebih praktis dan ekonomis karena cukup mencuci bersih tangan dan jari sebelum memeras ASI (Roesli, 2010). Jika teknik ini dilakukan dengan efektif dan tepat maka tidak akan terjadi masalah dalam produksi ASI maupun cara mengeluarkan ASI sehingga bayi akan tetap mendapatkan ASI dan penggunaan susu formula di harihari pertama kelahiran bayi dapat dikurangi (Soraya, 2006). Usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oskitosin pada ibu setelah melahirkan selain dengan memeras ASI, dapat dilakukan juga dengan melakukan perawatan atau pemijatan payudara, membersihkan puting, seringsering menyusui bayi meskipun ASI belum keluar (Biancuzzo, 2003; Indriyani, 2006;Yohmi & Roesli, 2009).
Dengan demikian sebagai tindak lanjut dari permasalahan diatas, maka akan dilakukan penyuluhan kesehatan tentang teknik memerah ASI dengan menggunakan metode marmet di Ruangan Camar 1 RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
B.        TUJUAN
1.      Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan kesehatan tentang teknik memerah ASI dengan menggunakan metode marmet selama ± 30 menit diharapkan ibu dapat memahami dan mampu mempraktekkan cara memerah ASI meggunakan metode marmet.

2.      Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan dan demonstrasi diharapkan ibu mampu :
a.             Menyebutkan defenisi memerah ASI menggunakan metode marmet
b.            Menyebutkan tentang keuntungan memerah ASI menggunakan metode marmet
c.             Mempraktekkan cara memerah ASI meggunakan metode marmet.

C.       Rancangan Kegiatan
1.      Topik       : Penyuluhan Tentang Teknik Memerah ASI dengan Menggunakan Metode Marmet
2.      Sasaran    : Ibu hamil dan Ibu menyusui
3.      Metode    : Ceramah, praktek, dan diskusi
4.      Media dan Alat   :
a.       Slide power point
b.      Leaflet
c.       Infokus
d.      Laptop
e.       Phamtom Payudara


5.      Waktu dan Tempat          :
a.       Hari/ tanggal   : Senin, 06 Januari 2014
b.      Jam                  : 09.00 wib s/d 10.00 wib
c.       Tempat            : Ruangan Camar 1 RSUD Arifin Ahcmad
6.      Pengorganisasian :
a.       Leader             : Selvy Agusmita
b.      Co. leader        : Riza Yunita
c.       Moderator       : Siska Sentia Putri Sela
d.      Fasilitator        : Suparti
e.       Observer          : Sarmalina


 
Setting tempat












 M
 


P
 


Oval: F







I
 


Rounded Rectangle: O
                I
 




Oval:   F

 







Keterangan :
M : Moderator
P  : Penyaji ( Leader dan Co Leader)
I   : Ibu hamil dan menyusui
F  : Fasilitator
O  : Observer
7.  Kegiatan Penyuluhan
Tahap Kegiatan
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan pasien dan keluarga
Pembukaan (5 menit)





Menyampaikan Materi ( 15 menit)













Penutup ( 10 menit)
a.    Mengucapkan salam
b.    Memperkenalkan anggota
c.    Menjelaskan tujuan penyuluhan
d.   Menjelaskan kontrak waktu

a.    Menggali pengetahuan ibu tentang teknik marmet dan cara menyimpan ASI yang baik
b.    Menjelaskan pengertian teknik marmet
c.    Menjelaskan cara/ teknik marmet
d.  Menjelaskan cara menyimpan ASI yang baik
e.   Memberikan kesempatan pada pasien/keluarga untuk bertanya
f.    Menjawab Pertanyaan

a.       Mengevaluasi pasien untuk mengulang kembali.
b.      Memberikan reinforcement positif atas jawaban yang diberikan keluarga/suami
c.        Menyimpulkan dan menutup diskusi.
d.      Mengcapkan salam.
-      Menjawab salam
-      Memperhatikan
-      Memperhatikan

-      Mendengarkan

-     Menguraikan Pengetahuannya


-     Memperhatikan dan Mendengarkan
-     Mendengarkan dan memperhatikan
-     Memperhatikan

-     Memperhatikan



-     Memberikan pertanyaan

-     Menjawab pertanyaan

-     Mendengarkan


-     Mendengarkan

-     Mendengarkan

-     Menjawab salam

D.       Uraian Tugas
1.   Leader
a.       Menyusun rencana dan mengorganisir anggota yang lain untuk berpartisipasi  dan melengkapi segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan penyuluhan.
b.      Menyampaikan materi penkes.
c.       Menjawab pertanyaan.


2.   Co. Leader
Membantu menyusun rencana, mengorganisir  anggota yang lain dan menyusun materi untuk pelaksanaan penyuluhan.
3.   Fasilitator
Membantu memberikan solusi dan saran pada saat penyuluhan apabila terjadi umpan balik antara narasumber dan peserta.
4.   Moderator
Sebagai mediator, yaitu membuka diskusi, menegahi situasi dan permasalahan yang berlangsung, maupun menutup penyuluhan.
5.   Observer
Mengawasi dan memberikan penilaian terhadap penyuluhan.
           
E.        Evaluasi Hasil
a.    Evaluasi struktur
-          Pasien mengikuti dari awal sampai akhir.
-          Selama kegiatan suasana lingkungan tenang.
b.   Evaluasi proses
-          Pasien dapat menyebutkan cara/teknik marmet
-          Pasien dapat menyebutkan cara menyimpan ASI yang baik
-          Pelaksanaan kegiatan penyuluhan sesuai dengan yang direncanakan
-          Peserta dapat mengikuti seluruh kegiatan penyuluhan
-          Peserta berperan aktif selama jalannya kegiatan


RINGKASAN MATERI
A.    Pengertian
Metode Marmet yaitu Teknik memerah ASI yang mempergunakan tangan dan jari karena praktis, efektif dan efisien dibandingkan dengan menggunakan pompa. Caranya memerah ASI menggunakan cara Cloe Marmet yang disebut dengan Teknik Marmet yang merupakan perpaduan antara teknik memerah dan memijat.

B.     Keuntungan Memerah ASI dengan Teknik Marmet
Ø   Penggunaan pompa ASI relatif tidak nyaman dan tidak efektif mengosongkan payudara.
Ø   Banyak ibu telah membuktikan bahwa memerah ASI dg tangan jauh lebih nyaman dan alami (saat mengeluarkan ASI).
Ø   Refleks keluarnya ASI lebih mudah terstimulasi dg Skin to skin contact (dg cara memerah tangan) daripada penggunaan pompa (terbuat dari plastik).
Ø   Jelas nyaman digunakan
Ø   Aman dari segi lingkungan
Ø   Portable (mudah dibawa kemana-mana). Tidak mungkin kan ibu lupa membawa tangannya ?
Ø   Dan yg paling mengasyikkan : GRATIS
C. Cara Memerah ASI dengan Teknik Marmet
mepost.jpg



1. LETAKKAN ibu jari dan dua jari lainnya
(telunjuk & jari tengah) sekitar 1 cm hingga 1,5 cm dari areola
·   Usahakan utk mengikuti aturan tsb sbg panduan. Apalagi ukuran dari areola tiap wanita bervariasi.
·    Tempatkan ibu jari diatas areola pada posisi jam 12 dan jari lainnya di posisi jam 6.
·   Perhatikan bahwa jari-jari tsb terletak diatas gudang ASI. Sehingga proses pengeluaran ASI optimal.
meavcup.jpg

Hindari melingkari jari pada areola spt gambar ini. Posisi jari seharusnya TIDAK berada di jam 12 dan jam 4.
mepush.jpg

2.   DORONG ke arah dada Hindari meregangkan jari. Bagi yg berpayudara besar, angkat dan dorong ke arah dada.
meroll1.jpg
3.   GULUNG menggunakan ibu jari dan jari lainnya meroll2.jpgsecara bersamaan


4.      Gerakkan ibu jari dan jari lainnya hingga menekan  gudang ASI    hingga kosong.
Jika dilakukan dg tepat, maka ibu tidak akan kesakitan saat memerah.
Catatan : Perhatikan posisi dari ibu jari dan jari-jari lainnya pada gamabar dengan baik. Arah panah menunjukkan arah tekanan jari saat melakukan gerakan. Perhatikan posisi jari berubah pada tiap gerakan mulai dari posisi Push (jari terletak jauh di belakang areola) hingga posisi Roll (jari terletak di sekitar areola).
5.      Ulangi secara teratur (RYTHMICALLY) hingga gudang ASI kosong.
Posisikan jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung); posisikan jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung).
6.      PUTAR ibu jari dan jari-jari lainnya ke titik gudang ASI lainnya. Demikian juga saat memerah payudara lainnya, gunakan kedua tangan. Misalkan, saat memerah payudara kiri, gunakan tangan kiri. Juga saat memerah payudara kanan, gunakan tangan kanan. Saat memerah ASI, jari-jari berputar seiring jarum jam ataupun berlawanan agar semua gudang ASI kosong. Pindahkan ibu jari dan jari lainnya pada posisi jam 6 & jam 12, kemudian posisi jam 11 & jam 5, kemudian jam 2 & jam 8, kemudian jam 3 & jam 9.
Gambar berikut menunjukkan posisi tangan pada payudara kanan.
                           merotate.jpg

D.    Gerakan yang Harus dihindari
meavsq.jpg

Hindari menekan / memencet payudara. Hal ini dapat melukai      payudara.
meavpul.jpg   

Hindari menarik-narik puting payudara. Hal ini dapat merusak lapisan lemak pada areola.


meavsld.jpg
Hindari menekan dan mendorong (sliding on) payudara. Hal ini dapat menyebabkan kulit pada payudara memar atau memerah.
AGAR ASI MUDAH DIKELUARKAN
Hal-hal dibawah ini dapat membantu merangsang (stimulasi) refleks keluarnya ASI.
      memasg.jpg  PEMIJATAN (MASSAGE)
      mestrk.jpgSTROKE
     meshak.jpgMENGGUNCANG (SHAKE)
a.       PIJATLAH sel-sel produksi ASI dan saluran ASI. Mulai dari bagian atas payudara. Dengan gerakan memutar, pijat dg menekan ke arah dada.
b.      TEKANLAH daerah payudara dari bagian atas hingga sekitar puting dg tekanan lembut dg jari spt menggelitiki.
c.       GUNCANGLAH payudara dg arah memutar. Gerakan gravitas akan membantu keluarnya ASI.

E.     Prosedur
Prosedur berikut diutamakan bagi para ibu yg memberikan ASI eksklusif dan bagi mereka yg ingin meningkatkan produksi ASI juga menjaga agar produksi ASI optimal.
  • Perahlah kedua payudara hingga ASI kosong dari gudang payudara (ditandai dg aliran ASI yg menurun).
  • Lakukan prosedur stimulasi refleks keluarnya ASI agar ASI mudah dikeluarkan (massage, stroke, shake) pada kedua payudara. Prosedur tsb dapat dilakukan kapanpun.
  • Ulangi seluruh proses memerah ASI pada tiap payudara dan teknik stimuasi refleks keluarnya ASI sekali atau dua kali. Aliran ASI biasanya menurun pada kali kedua atau ketiga. Ini artinya gudang ASI mengering.
F.     Waktu
KESELURUHAN PROSEDUR umumnya membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit.
·      Perahlah tiap payudara selama 5-7 menit.
·      Pijat (Massage), stroke, guncang (shake).
·      Perahlah lagi tiap payudara selama 3-5 menit.
·      Pijat (Massage), stroke, guncang (shake).
·      Perahlah lagi tiap payudara selama 2-3 menit.

Catatan : Jika supply ASI terjaga, gunakan waktu semaksimal mungkin. Waktu tersebut diatas hanya sebagai patokan saja. Perhatikan aliran ASI dan ganti payudara lainnya jika aliran ASI pd payudara tersebutsb sudah mulai menurun.
Catatan : Jika ASI tidak keluar atau hanya sedikit ASI yg keluar, ikuti petunjuk diatas dengang periode waktu lebih singkat dan sering. 
G.    Cara Penyimpana ASI Agar Aman di Komsumsi oleh Bayi
1.         Siapkan wadah penampung ASI yang mudah disterilkan, biasanya berupa botol tertutup rapat yang terbuat dari gelas tahan panas.
2.         Bila ASI perah akan diberikan dalam waktu kurang dari 6 jam, maka tidak perlu disimpan dilemari pendingin. Sebaiknya jangan menyimpan ASI di suhu kamar lebih dari 3-4 jam.
3.         Bila perlu disimpan selama 24 jam, segera masukkan ASI perah kedalam lemari pendingin pada suhu 4 derajat celcius (jangan sampai beku ).
4.      Bila ASI perah akan digunakan dalam waktu 1 minggu atau lebih, maka ASI perah tersebut harus segera didingin kan dalam lemari pendingin selama 30 menit, lalu dibekukan dalam suhu -18 derajat celcius atau lebih rendah. ASI yang sudah dibekukan dapat disimpan antara 3-6 bulan.
5.      Bila mungkin, simpanlah ASI dalam lemari pendingin bagian tengah, atau bagian terdalam freezer, karena lokasi-lokasi tersebut memiliki temperature yang lebih dingin dan konstan.
6.      Jangan menyimpan ASI pada rak yang menempel di pintu lemari pendingin karena temperature ditempat ini mudah berubah ketika pintu dibuka dan ditutup.
7.      Beri lebel setiap wadah ASI yang diberi keterangan kapan ASI itu diperah.
8.      Jangan mengisi penuh wadah penampung ASI, karena ASI akan memuai saat membeku. Sisakan kurang lebih ¼ bagian kosong.
9.      ASI yang sudah dihangat kan tidak boleh didingin kan lagi untuk diberikan pada bayi di waktu minum berikutnya.
10.  Pembekuan yang lama (lebih dari 6 bulan ) dapat mengubah komposisi kimia ASI , seperti terjadi penguraian beberapa senyawa lemak dan hilangnya beberapa senyawa yang berfungsi melawan organisme berbahaya











Tidak ada komentar:

Posting Komentar