PRE PLANNING
PENYULUHAN KESEHATAN
METODE MARMET UNTUK PENGELUARAN ASI DI
RUANGAN CAMAR 1 RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU
A. Latar Belakang
Payudara
adalah sepasang kelenjar mamae yang terletak diantara tulang iga kedua dan
keenam. Sekitar dua pertiga payudara terletak diatas otot pektoralis mayor,
antara sternum dan garis aksilaris tengah, dengan perluasan kearah aksila yang
disebut sebagai ekor Spence. Sepertiga bagian bawah payudara terletak melekat
diatas otot seratus anterior (Bobak, 2005).
Payudara
adalah perlengkapan organ reproduksi wanita dan pada masa laktasi akan
mengeluarkan air susu. Payudara juga merupakan aset milik wanita yang paling
berharga, tetapi sering dianggap sebagai bagian tubuh yang tabu sehingga tidak
boleh dibicarakan. Oleh karena itu, banyak yang tidak mengetahui apa saja yang
harus dilakukan terhadap kesehatan payudara (Saryono & Pramitasari, 2009).
Menurut WHO, ASI ekslusif adalah air
susu ibu yang diberikan pada enam bulan pertama pada bayi baru lahir tanpa
adanya makanan pendamping lain. Menurut
laporan tahun 2000 WHO, ± 15 % bayi di seluruh dunia diberi ASI eksklusif selama
4 bulan dan seringkali pemberian makanan pendamping ASI tidak sesuai dan tidak
aman sehingga menyebabkan ± 1, 5 juta anak meninggal karena pemberian makanan
yang tidak benar. Pada tahu 2000, survey
kesehatan demografo WHO menemukan bahwa pemberian ASI ekslusif selama 4 bulan
pertama sangat rendah terutama di afrika tengah dan utara, Asia dan Amerika
latin. Oleh karena itu, WHO menganjurkan agar bayi diberi ASI ekslusif selama 6
bulan pertama sebab terbukti bahawa menyusu ASI ekslusif selama 6 bulan
menurunkan angka kematian dan kesakitan pada umumnya disbanding menyusu selama
4 bulan.
Penelitian
yang dilakukan oleh Ahluwia, Morrow, dan Hsia (2005) ditemukan bahwa ibu-ibu
berhenti menyusui bayinya pada bulan pertama post partum disebabkan karena
puting lecet, kesulitan dalam melakukan perlekatan yang benar serta persepsi
mereka tentang ketidak cukupan produksi ASI ibu sehingga tidak dapat memuaskan
bayi. Begitu juga yang ditemukan di Ruangan Camar 1 RSUD Arifin Achmad, masih
banyak ibu yang memberikan susu formula pada bayi yang dikarenakan produksi air
susu yang sedikit, ibu kesulitan dalam melakukan perlekatan yang benar.
Menyusui
dini di jam-jam pertama kelahiran jika tidak dapat dilakukan oleh ibu akan
menyebabkan proses menyusu tertunda, maka alternatif yang dapat dilakukan
adalah memerah atau memompa ASI selama 10-20 menit hingga bayi dapat menyusu.
Tindakan tersebut dapat membantu memaksimalkan reseptor prolaktin dan
meminimalkan efek samping dari tertundanya proses menyusui oleh bayi (Evariny,
2008). Teknik memerah ASI yang dianjurkan adalah dengan mempergunakan tangan
dan jari karena praktis, efektif dan efisien dibandingkan dengan menggunakan pompa.
Caranya memerah ASI menggunakan cara Cloe Marmet yang disebut dengan Teknik
Marmet yang merupakan perpaduan antara teknik memerah dan memijat.
Memerah
dengan menggunakan tangan dan jari mempunyai keuntungan selain tekanan negatif
dapat diatur, lebih praktis dan ekonomis karena cukup mencuci bersih tangan dan
jari sebelum memeras ASI (Roesli, 2010). Jika teknik ini dilakukan dengan
efektif dan tepat maka tidak akan terjadi masalah dalam produksi ASI maupun
cara mengeluarkan ASI sehingga bayi akan tetap mendapatkan ASI dan penggunaan
susu formula di harihari pertama kelahiran bayi dapat dikurangi (Soraya, 2006).
Usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oskitosin pada ibu setelah melahirkan
selain dengan memeras ASI, dapat dilakukan juga dengan melakukan perawatan atau
pemijatan payudara, membersihkan puting, seringsering menyusui bayi meskipun
ASI belum keluar (Biancuzzo, 2003; Indriyani, 2006;Yohmi & Roesli, 2009).
Dengan demikian sebagai tindak
lanjut dari permasalahan diatas, maka akan dilakukan penyuluhan kesehatan
tentang teknik memerah ASI dengan menggunakan metode marmet di Ruangan Camar 1
RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
B.
TUJUAN
1.
Tujuan Umum
Setelah
diberikan penyuluhan kesehatan tentang teknik memerah ASI dengan menggunakan
metode marmet selama ± 30 menit diharapkan ibu dapat memahami dan mampu
mempraktekkan cara memerah ASI meggunakan metode marmet.
2.
Tujuan Khusus
Setelah
dilakukan penyuluhan dan demonstrasi diharapkan ibu mampu :
a.
Menyebutkan defenisi memerah
ASI menggunakan metode marmet
b.
Menyebutkan tentang keuntungan memerah
ASI menggunakan metode marmet
c.
Mempraktekkan cara memerah ASI
meggunakan metode marmet.
C.
Rancangan Kegiatan
1.
Topik : Penyuluhan Tentang Teknik Memerah ASI dengan Menggunakan Metode Marmet
2.
Sasaran : Ibu hamil dan Ibu menyusui
3. Metode : Ceramah, praktek, dan diskusi
4. Media dan Alat :
a.
Slide power point
b.
Leaflet
c.
Infokus
d.
Laptop
e.
Phamtom Payudara
5.
Waktu dan Tempat :
a.
Hari/ tanggal : Senin, 06 Januari 2014
b.
Jam : 09.00 wib s/d 10.00 wib
c.
Tempat : Ruangan Camar 1 RSUD Arifin Ahcmad
6.
Pengorganisasian :
a.
Leader : Selvy Agusmita
b.
Co. leader : Riza Yunita
c.
Moderator : Siska Sentia Putri Sela
d.
Fasilitator : Suparti
e.
Observer : Sarmalina
|
|
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
Keterangan :
M : Moderator
P : Penyaji
( Leader dan Co Leader)
I : Ibu
hamil dan menyusui
F :
Fasilitator
O : Observer
7. Kegiatan
Penyuluhan
Tahap Kegiatan
|
Kegiatan
Penyuluhan
|
Kegiatan pasien
dan keluarga
|
Pembukaan (5 menit)
Menyampaikan Materi ( 15 menit)
Penutup ( 10 menit)
|
a.
Mengucapkan salam
b.
Memperkenalkan anggota
c.
Menjelaskan tujuan penyuluhan
d.
Menjelaskan kontrak waktu
a. Menggali pengetahuan ibu tentang teknik
marmet dan cara menyimpan ASI yang baik
b. Menjelaskan pengertian teknik marmet
c. Menjelaskan cara/ teknik marmet
d. Menjelaskan cara
menyimpan ASI yang baik
e. Memberikan kesempatan pada
pasien/keluarga untuk bertanya
f. Menjawab Pertanyaan
a. Mengevaluasi pasien untuk
mengulang kembali.
b.
Memberikan reinforcement
positif atas jawaban yang diberikan keluarga/suami
c.
Menyimpulkan dan menutup diskusi.
d.
Mengcapkan salam.
|
-
Menjawab salam
-
Memperhatikan
-
Memperhatikan
-
Mendengarkan
-
Menguraikan Pengetahuannya
-
Memperhatikan dan
Mendengarkan
-
Mendengarkan dan memperhatikan
-
Memperhatikan
-
Memperhatikan
-
Memberikan pertanyaan
-
Menjawab pertanyaan
-
Mendengarkan
-
Mendengarkan
-
Mendengarkan
-
Menjawab salam
|
D.
Uraian Tugas
1. Leader
a. Menyusun rencana dan mengorganisir anggota yang
lain untuk berpartisipasi dan melengkapi
segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan penyuluhan.
b. Menyampaikan materi penkes.
c. Menjawab pertanyaan.
2. Co. Leader
Membantu menyusun rencana, mengorganisir anggota yang lain dan menyusun materi untuk
pelaksanaan penyuluhan.
3. Fasilitator
Membantu memberikan solusi dan saran pada saat
penyuluhan apabila terjadi umpan balik antara narasumber dan peserta.
4. Moderator
Sebagai mediator, yaitu
membuka diskusi, menegahi situasi dan permasalahan yang berlangsung, maupun menutup penyuluhan.
5. Observer
Mengawasi dan memberikan penilaian terhadap
penyuluhan.
E.
Evaluasi Hasil
a.
Evaluasi struktur
-
Pasien
mengikuti dari awal sampai akhir.
-
Selama kegiatan suasana
lingkungan tenang.
b.
Evaluasi proses
-
Pasien
dapat menyebutkan cara/teknik marmet
-
Pasien
dapat menyebutkan cara menyimpan ASI yang baik
-
Pelaksanaan
kegiatan penyuluhan sesuai dengan yang direncanakan
-
Peserta
dapat mengikuti seluruh kegiatan penyuluhan
-
Peserta
berperan aktif selama jalannya kegiatan
RINGKASAN MATERI
A.
Pengertian
Metode
Marmet yaitu Teknik memerah ASI yang mempergunakan tangan dan jari karena
praktis, efektif dan efisien dibandingkan dengan menggunakan pompa. Caranya
memerah ASI menggunakan cara Cloe Marmet yang disebut dengan Teknik Marmet yang
merupakan perpaduan antara teknik memerah dan memijat.
B.
Keuntungan Memerah ASI dengan Teknik
Marmet
Ø Penggunaan pompa ASI relatif tidak nyaman dan tidak efektif
mengosongkan payudara.
Ø Banyak ibu telah membuktikan bahwa memerah ASI dg tangan jauh lebih
nyaman dan alami (saat mengeluarkan ASI).
Ø Refleks keluarnya ASI lebih mudah terstimulasi dg Skin to skin
contact (dg cara memerah tangan) daripada penggunaan pompa (terbuat dari
plastik).
Ø Jelas nyaman digunakan
Ø Aman dari segi lingkungan
Ø Portable (mudah dibawa kemana-mana). Tidak mungkin kan ibu lupa
membawa tangannya ?
Ø Dan yg paling mengasyikkan : GRATIS
1. LETAKKAN ibu jari dan dua jari lainnya
(telunjuk & jari tengah) sekitar 1 cm hingga
1,5 cm dari areola
·
Usahakan utk mengikuti aturan
tsb sbg panduan. Apalagi ukuran dari areola tiap wanita bervariasi.
·
 Tempatkan ibu jari
diatas areola pada posisi jam 12 dan jari lainnya di posisi jam 6.
·
Perhatikan bahwa jari-jari tsb
terletak diatas gudang ASI. Sehingga proses pengeluaran ASI optimal.
Hindari melingkari jari pada areola spt gambar ini.
Posisi jari seharusnya TIDAK
berada di jam 12 dan jam 4.
2. DORONG ke arah dada Hindari
meregangkan jari. Bagi yg
berpayudara besar, angkat dan dorong ke arah dada.
4. Gerakkan ibu jari dan jari lainnya hingga menekan
gudang ASI hingga kosong.
Jika dilakukan dg tepat, maka ibu tidak akan
kesakitan saat memerah.
Catatan : Perhatikan posisi dari ibu
jari dan jari-jari lainnya pada gamabar dengan
baik. Arah panah menunjukkan arah tekanan jari saat melakukan gerakan.
Perhatikan posisi jari berubah pada tiap gerakan mulai dari posisi Push (jari
terletak jauh di belakang areola) hingga posisi Roll (jari terletak di sekitar
areola).
5.
Ulangi
secara teratur (RYTHMICALLY) hingga gudang ASI kosong.
Posisikan
jari secara tepat, push (dorong), roll (gulung); posisikan jari secara tepat,
push (dorong), roll (gulung).
6.
PUTAR ibu jari dan jari-jari lainnya ke titik gudang
ASI lainnya. Demikian juga saat memerah payudara lainnya, gunakan kedua tangan.
Misalkan, saat memerah payudara kiri, gunakan tangan kiri. Juga saat memerah
payudara kanan, gunakan tangan kanan. Saat memerah ASI, jari-jari berputar
seiring jarum jam ataupun berlawanan agar semua gudang ASI kosong. Pindahkan
ibu jari dan jari lainnya pada posisi jam 6 & jam 12, kemudian posisi jam
11 & jam 5, kemudian jam 2 & jam 8, kemudian jam 3 & jam 9.
Gambar
berikut menunjukkan posisi tangan pada payudara kanan.
Hindari menarik-narik puting payudara. Hal ini dapat
merusak lapisan lemak pada areola.

Hindari menekan dan mendorong (sliding on) payudara. Hal ini dapat menyebabkan kulit pada payudara memar atau memerah.
AGAR ASI MUDAH DIKELUARKAN
Hal-hal dibawah ini dapat membantu merangsang
(stimulasi) refleks keluarnya ASI.
PEMIJATAN (MASSAGE)
STROKE
MENGGUNCANG (SHAKE)
a. PIJATLAH
sel-sel produksi ASI dan saluran ASI. Mulai
dari bagian atas payudara. Dengan
gerakan memutar, pijat dg menekan ke arah dada.
b. TEKANLAH
daerah payudara dari bagian atas hingga sekitar puting dg tekanan lembut dg
jari spt menggelitiki.
c. GUNCANGLAH
payudara dg arah memutar. Gerakan gravitas akan membantu keluarnya ASI.
E. Prosedur
Prosedur berikut diutamakan bagi para ibu yg memberikan ASI eksklusif dan
bagi mereka yg ingin meningkatkan produksi ASI juga menjaga agar produksi ASI
optimal.
- Perahlah kedua payudara hingga ASI kosong dari gudang payudara (ditandai dg aliran ASI yg menurun).
- Lakukan prosedur stimulasi refleks keluarnya ASI agar ASI mudah dikeluarkan (massage, stroke, shake) pada kedua payudara. Prosedur tsb dapat dilakukan kapanpun.
- Ulangi seluruh proses memerah ASI pada tiap payudara dan teknik stimuasi refleks keluarnya ASI sekali atau dua kali. Aliran ASI biasanya menurun pada kali kedua atau ketiga. Ini artinya gudang ASI mengering.
F.
Waktu
KESELURUHAN PROSEDUR umumnya membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit.
·
Perahlah tiap payudara selama
5-7 menit.
·
Pijat (Massage), stroke,
guncang (shake).
·
Perahlah lagi tiap payudara
selama 3-5 menit.
·
Pijat (Massage), stroke,
guncang (shake).
·
Perahlah lagi tiap payudara
selama 2-3 menit.
Catatan : Jika supply ASI terjaga, gunakan waktu semaksimal mungkin. Waktu
tersebut diatas hanya sebagai patokan saja. Perhatikan aliran ASI
dan ganti payudara lainnya jika aliran ASI pd payudara tersebutsb sudah mulai menurun.
Catatan : Jika ASI tidak keluar atau hanya sedikit ASI yg keluar, ikuti
petunjuk diatas dengang
periode waktu lebih singkat dan sering.
G. Cara Penyimpana ASI Agar Aman di Komsumsi oleh Bayi
1.
Siapkan wadah penampung ASI
yang mudah disterilkan, biasanya berupa botol tertutup rapat yang terbuat dari
gelas tahan panas.
2.
Bila ASI perah akan diberikan
dalam waktu kurang dari 6 jam, maka tidak perlu disimpan dilemari pendingin.
Sebaiknya jangan menyimpan ASI di suhu kamar lebih dari 3-4 jam.
3.
Bila perlu disimpan selama 24
jam, segera masukkan ASI perah kedalam lemari pendingin pada suhu 4 derajat
celcius (jangan sampai beku ).
4.
Bila ASI perah akan digunakan
dalam waktu 1 minggu atau lebih, maka ASI perah tersebut harus segera didingin
kan dalam lemari pendingin selama 30 menit, lalu dibekukan dalam suhu -18
derajat celcius atau lebih rendah. ASI yang sudah dibekukan dapat disimpan
antara 3-6 bulan.
5.
Bila mungkin, simpanlah ASI
dalam lemari pendingin bagian tengah, atau bagian terdalam freezer, karena lokasi-lokasi tersebut memiliki temperature yang
lebih dingin dan konstan.
6.
Jangan menyimpan ASI pada rak
yang menempel di pintu lemari pendingin karena temperature ditempat ini mudah
berubah ketika pintu dibuka dan ditutup.
7.
Beri lebel setiap wadah ASI
yang diberi keterangan kapan ASI itu diperah.
8.
Jangan mengisi penuh wadah
penampung ASI, karena ASI akan memuai saat membeku. Sisakan kurang lebih ¼
bagian kosong.
9.
ASI yang sudah dihangat kan
tidak boleh didingin kan lagi untuk diberikan pada bayi di waktu minum
berikutnya.
10. Pembekuan yang lama (lebih dari 6 bulan ) dapat mengubah komposisi
kimia ASI , seperti terjadi penguraian beberapa senyawa lemak dan hilangnya
beberapa senyawa yang berfungsi melawan organisme berbahaya








Tidak ada komentar:
Posting Komentar