Jumat, 09 September 2016

KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK



KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

A.    Teori Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah proses peningkatan yang terjadi pada diri seseorang secara kuantitatif atau peningkatan dalam hal ukuran, sedangkan perkembangan adalah suatu proses perubahan pada kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh kearah keadaan yang semakin terorganisasi dan terspesialisasi (Sujiono, 2007).
Menurut Whaley dan Wong, pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah atau ukuran\ sel tubuh yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ukuran dan berat seluruh bagian tubuh (Supartini, Yupi : 2004).  Tumbuh adalah proses bertambahnya ukuran/ dimensi akibat penambahan jumlah atau ukuran sel dan jaringan interseluler (Mansjoer, 2000 : 580). Pertumbuhan adalah suatu peningkatan ukuran fisik keseluruhan atau sebagian yang dapat diukur, dimana grafik pertumbuhan meliputi tinggi, berat badan dan diameter pada lipatan kulit (Suriadi, 2001 : 1). Pertumbuhan adalah bertambah besar dalam aspek fisis akibat multiplikasi sel dan bertambahnya jumlah zat interseluler (Hassan, 2007 : 387).
Menurut Whaley dan Wong, perkembangan manitik beratkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran (Supartini, Yupi: 2004).Perkembangan adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih komleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan (Soetjiningsih:1998). Pengertian dari kembang (berkembang) adalah proses pematangan/ maturasi fungsi organ tubuh termasuk berkembangnya kemampuan mental intelegensi serta perilaku anak (Mansjoer, 2000:580). Perkembangan adalah suatu rangkaian peningkatan keterampilan dan kapasitas untuk berfungsi (Suriadi, 2001:1). Perkembangan adalah digunakan untuk menunjukkan bertambahnya ketrampilan dan fungsi yang kompleks dalam pengaturan neuromuskuler, berkembang dalam mempergunakan tangan kanannya dan berbentuk pula kepribadiannya (Hassan, 2000:387).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang:
1.      Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapai dan tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal (lingkungan dalam kandungan) dan lingkungan postnatal (lingkungan setelah bayi lahir).
a.       Lingkungan Prenatal
Lingkungan prenatal merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai dari konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, lingkungan mekanis, zat kimia atau toksin, dan hormonal.
b.      Lingkungan mekanis
Lingkungan mekanis adalah segala hal yang memengaruhi janin atau posisi janin dalam uterus.
1)      Radiasi dapat menyebabkan kerusakan pada organ otak janin.
2)      Infeksi dalam kandungan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin.
3)      Kekurangan oksigen pada janin mengakibatkan gangguan dalam plasenta sehingga kemungkinan bayi lahir dengan berat badan kurang atau sering disebut dengan BBLR.
4)      Faktor      imunitas     dapat     mempengaruhi     pertumbuhan   dan perkembangan  janin  karena menyebabkan terjadinya abortus atau
karena ikterus.
5)      Stres dapat memengaruhi kegagalan tumbuh kembang janin.
c.       Zat kimia atau toksin
Hal ini berkaitan dengan penggunaan obat-obatan, alkohol, atau kebiasaan merokok pada ibu hamil. Obat-obatan pada ibu hamil.
d.      Hormonal
Hormon-hormon ini mencakup hormon sometotrofin, flasenta, tiroid, dan insulin. Peran hormon somatotrofin atau hormon pertumbuhan, yaitu disekresikan k meningkat kelenjar hipofisis janin sekitar minggu kesembilan dan produksinya meningkat pada minggu ke dua puluh.Hormon tersebut berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilago dan sistem skeletal.Hormon yang kedua yang mempengaruhi yaitu hormon plasenta atau human plasental laktogen yaitu berperan dalam nutrisi plasenta pada bayi.Hormon selanjutnya yaitu hormon tiroid berperan menstimulasi metabolisme tubuh. Hormon yang terakhir yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu hormon glukokortikoid yaitu mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis (untuk memproduksi hormon testoteron dan ovarium) selanjutnya hormon tersebut akan menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan peran hormonnya (wong, 2000).
2.       Faktor Herediter (genetik)
Faktor Herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang  anak disamping faktor-faktor lain. Faktor Herediter merupakan bawaan, jenis kelamin, ras, dan suku bangsa. Faktor ini dapat ditentukan dengan intensitas kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, usia pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
Pertumbuhan  dan  perkembangan  dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan akan mengalami pertumbuhan yang lebih cepat ketika mereka mencapai masa pubertas.
Ras atau suku bangsa memiliki peran dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, hal ini dapat dilihat pada suku bangsa tertentu yang memiliki kecenderungan lebih besar seperti orang asia lebih pedek dan kecil dibandingkan dengan eropa dan yang lainnya.

B.     Tahap Tumbuh Kembang Anak
Proses tumbuh kembang dimulai sejak sel telur dibuahi dan akan berlangsung sampai dewasa. Tahap-Tahap Perkembangan dan Pertumbuhan:

1)      Masa Prenatal
Masa prenatal terdiri atas dua fase, yaitu fase embrio dan fase fetus. Pada
fase embrio, pertumbuhan dapat diawali mulai dari konsepsi hingga 8 minggu pertama yang dapat terjadi pertumbuhan yang cepat dari ovum menjadi suatu organisme dan terbentuknya manusia. Pada minggu ke-2, terjadi pembelahan sel dan pemisahan jaringan antara endoterm dan ektodrm. Pada minggu ke-3 terbentuk lapisan mesoderm. Pada masa ini sampai usia 7 minggu belum tampak adanya gerakan yang berarti melainkan hanya terdapat denyut jantung janin, yaitu sudah mulai dapat berdenyut sejak 4 minggu. Pada fase fetus terjadi sejak usia 9 minggu hingga kelahiran, sedangkan minggu ke-12 sampai ke-40 terjadi peningkatan fungsi organ, yaitu bertambahnya ukuran panjang dan berat badan terutama pertumbuhan serta penambahan jaringan subkutan dan jaringan otot.
2)      Masa Postnatal
a.       Masa Neonatus (0-28 hari)
Masa ini merupakan masa terjadinya kehidupan yang baru dalam ekstrauteri, yaitu adanya proses adaptasi semua sistem organ tubuh. Proses adaptasi dari organ tersebut dimulai dari aktifitas pernapasan yang disertai pertukaran gas dengan frekuensi pernapasan antara 35-50 kali permenit, penyesuaian denyut jantung antara 120-160 kali per menit dengan ukuran jantung lebih besar apabila dibandingkan dengan rongga dada. Perubahan selanjutnya sudah dimulai proses pengeluaran tinja yang terjadi dalam waktu 24 jam yang didalamnya terdapat mekonium. Hal tersebut akan dilanjutkan dengan proses defekasi, seperti pada proses ekskresi dari apa yang dimakan (ASI). Frekuensi defekasi tersebut dapat berkisar antara 3-5 kali seminggu (bergantung pada kondisi bayi dan susu yang dikonsumsi, apakah ASI ataukah susu formula).
Perubahan pada fungsi organ yang lainnya adalah ginjal yang belum sempurna, urine masih mengandung sedikit protein dan pada minggu pertama akan dijumpai urine berwarna merah muda karena banyak mengandung senyawa urat. Keadaan fungsi hati pun masih relatif imatur dalam memproduksi faktor pembekuan, sebab belum terbentuknya  usus  yang  akan berperan dalam absorpsi vitamin K dan
 imunologi untuk kekebalan bayi.
b.      Masa Bayi
Masa bayi ini dibagi menjadi dua tahap perkembangan. Tahap pertama (antara usia 1-12 bulan) yaitu pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini dapat berlangsung secara terus menerus, khususnya dalam peningkatan susunan saraf. Tahap kedua (usia 1-2 tahun) yaitu kecepatan pertumbuhan pada masa ini mulai menurun dan terdapat percepatan pada perkembangan motorik.
c.        Masa Prasekolah
Perkembangan pada masa ini dapat berlangsung stabil dan masih terjadi peningkatan pertumbuhan serta perkembangan, khususnya pada aktifitas fisik dan kemampuan kognitif.
d.      Masa Sekolah
Perkembangan  masa  sekolah  ini  lebih cepat dalam kemampuan
fisik dan kognitif dibandingkan dengan masa prasekolah.
e.       Masa Remaja
Pada tahap perkembangan remaja terjadi perbedaan pada perempuan dan laki-laki. Pada umumnya wanita 2 tahun lebih cepat untuk masuk ke dalam tahap remaja atau masa pubertas bila dibandingkan dengan anak laki-laki dan perkembangan ini ditunjukan pada perkembangan pubertas.

3.        PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS DAN MOTORIK KASAR
Perkembangan motorik halus pada anak antara lain:
1)      Masa neonatus (0-28 hari)
Perkembangan motorik halus pada masa ini dimulai dengan adanya kemampuan untuk mengikuti garis tengah bila kita memberikan respons terhadap gerakan jari atau tangan.
2)      Masa Bayi (28 hari-1 tahun
a)      Usia 1-4 bulan
Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah dapat melakukan hal-hal seperti memegang suatu objek, mengikuti objek dari sisi ke sisi, menvoba memegang dan memasukan benda kedalam mulut, memegang benda tapi terlepas, memerhatikan tangan dan kaki, memegang benda dengan kedua tangan, serta menahan benda ditangan walaupun hanya sebentar.
b)      Usia 4-8 bulan
Perkembangan  motorik  halus  pada  usia  ini adalah sudah mulai
mengamati benda, menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang, mengekplorasi benda yang sedang dipegang, mengambil objek dengan tangan tertangkup, mampu menahan kedua benda di kedua tangan secara simultan, menggunakan bahu dan tangan sebagai satu kesatuan, serta memindahkan objek dari satu tangan ketangan yang lain.
c)      Usia 8-12 bulan
Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah mencari atau merainh benda kecil; bila diberi kubus mampu memindahkan, mengambil, memegang dengan telunjuk dan ibu jari, membenturkannya, serta meletakkan benda atau kubus ke tempatnya.
3)      Masa Anak (1-2 tahun)
Perkembangan motorik halus pada usia ini dapat ditunjukan dengan adanya kemampuan dalam mencoba, menyusun, atau membuat menara pada kubus.
4)      Masa Prasekolah
Perkembangan motorik halus dapat dilihat pada anak, yaitu mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga bagian, memilih garis yang lebih panjang dan menggambar orang, melepas objek dengan jari lurus, mampu menjepit benda, melambaikan tangan, menggunakan tanggannya untuk bermain, menempatkan objek kedalam wadah, makan sendiri, minum dari cangkir dengan bantuan, menggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan jari, serta membuat coretan diatas kertas(wong,2000)
f.       Perkembangan Motorik Kasar
1)       Masa Neonatus (0-28 hari)
Perkembangan motorik kasar yang dapat dicapai pada usia ini diawali dengan tanda gerakan seimbang pada tubuh dan mulai mengangkat kepala.
2)      Masa Bayi (28 hari-1 tahun)
a.       Usia 1-4 bulan
Perkembangan motorik kasar pada usia ini dimulai dengan kemampuan mengangkat kepala saat tegkurap, mencoba duduk sebentar dengan ditopang, mampu duduk dengan kepala tegak, jatuh terduduk dipangkuan ketika disokong pada posisi berdiri, kontrol kepala sempurna, mengangkat kepala sambil berbaring terlentang, berguling dari terlentang ke miring, kesisi lengan dan tungkai kurang fleksi, dan berusaha untuk merangkak.
b.      Usia 4-8 bulan
Usia perkembangan motorik kasar awal bulan ini dapat dilihat pada pertumbuhan dalam aktivitas, seperti posisi telungkup pada alas dan sudah mulai mengangkat kepala dengan melakukan gerakan menekan kedua tangannya. Pada bulan ke empat sudah mampu memalingkan kepala ke kanan dan kiri, duduk dengan kepala tegak, membalikan badan, bangkit dengan kepala tegak, menumpu beban pada kaki dengan lengan berayun kedepan dan kebelakang, berguling dari terlentang dan tengkurap, serta duduk dengan bantuan dalam waktu yang singkat.
c.       Usia 8-12 bulan
Perkembangan motorik kasar dapat diawali dengan duduk tanpa pegangan, berdiri dengan pegangan, bangkit lalu berdiri, berdiri 2 detik dan berdiri sendiri.
3)      Masa Anak (1-2 tahun)
Dalam perkembangan masa anak terjadi perkembangan motorik kasar secara signifikan. Pada masa ini anak sudah mampu melangkah dan berjalan dengan tegak. Sekitar usia 18 bulan anak mampu menaiki tangga dengan cara 1 tangan dipegang. Pada akhir tahun kedua sudah mampu berlari-lari kecil, menendang bola, dan mulai mencoba melompat.
4)      Masa Prasekolah
Perkembangan motorik kasar masa prasekolah ini dapat diawali
 dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama satu sampai lima detik, melompat dengan satu kaki, berjalan dengan tumit ke jari kaki, menjelajah, membuat posisi merangkak, dan berjalan dengan bantuan (wong, 2000).
c.       Perkembangan Bahasa
1)      Masa Neonatus (0-28 hari)
Perkembangan bahasa masa neonatus ini dapat ditunjukan dengan adanya kemampuan bersuara (menangis) dan bereaksi terhadap suara atau bel.
2)      Masa Bayi (28 hari- 1 tahun)
a)       Usia 1-4 bulan
Perkembangan bahasa pada usia ini ditandai dengan adanya kemampuan bersuara dan tersenyum, mengucapkan huruf hidup, berceloteh,  mengucapkan  kata  “oh/ah”,   tertawa   dan   berteriak,
mengoceh spontan, serta bereaksi dengan mengoceh.
b)      Usia 4-8 bulan
Perkembangan bahasa pada usia ini adalah dapat menirukan bunyi atau kata-kata, menoleh ke arah suara atau sumber bunyi, tertawa, menjerit, menggunakan vokalisasi semakin banyak, serta menggunakan kata yang terdiri atas dua suku kata dan dapat membuat dua bunyi vokal yang bersamaan seperi “ba-ba”.
c)      Usia 8-12 bulan
Perkembangan   bahasa   pada   usia   ini   adalah   mampu
 mengucapkan kata “papa” dan “mama” yang belom spesifik, mengoceh hingga mengatakannya secara spesifik, serta dapat mengucapkan satu samapai dua kata.
3)      Masa Anak (1-2 tahun)
Perkembangan bahasa masa anak ini adalah dicapainya kemampuan bahasa pada anak yang mulai ditandai dengan anak mampu memiliki sepuluh perbendaharaan kata; tingginya kemampuan meniru, mengenal, dan responsip terhadap orang lain; mampu menujukan dua gambar; mampu mengkombinasikan kata-kata; seta mulai mampu menunjukan lambaian anggota badan.
4)       Masa Prasekolah
Perkembangan bahasa diawali dengan adanya kemampuan menyebutkan hingga empat gambar; menyebutkan satu hingga dua warna; menyebutkan kegunaan benda; mengitung; mengartikan dua kata; mengerti empat kata depan; mengerti beberapa kata sifat dan jenis kata lainnya; menggunakan bunyi untuk mengidentifikasi objek, orang, dan aktivitas; menirukan berbagaibuny kata; memahami arti larangan; serta merespons panggilan orang dan anggota keluarga dekat.
d.      Perkembangan Prilaku atau adaptasi social
1)      Masa Neonatus (0-28 hari)
Perkembangan adaptasi sosial atau prilaku masa neonatus ini dapat ditunjukan dengan adanyab tanda-tanda tersenyum dan mulai menatap muka untuk menegnali seseorang.
2) Masa Bayi (28 hari-1 tahun)
a) Usia 1-4 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini dapat diawali dengan kemampuan mengamati tangannya: tersenyum spontan dan membalas senyum bila di ajak tersenyum; mengenali ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, dan kontak; tersenyum pda wajah manusia; waktu tidur dalam sehari lebih sedikit dari pada waktu terjaga; membentuk siklus tidur bangun; menangis bila terjadi sesuatu yang aneh; membedakan wajah-wajah yang dikenal dan tidak dikenal; senang menatap wajah-wajah  yang  dikenalnya; serta  terdiam bila ada orang yang tak
                                    dikenal (asing).
b) Usia 4-8 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini antara lain anak merasa takut dan terganggu dengan keberadaan orang asing, mulai bermain dengan mainan, mudah frustasi, serta memukul-mukul lengan dan kaki jika sedang kesal.
c)    Usia 8-12 bulan
Perkembangan adaptasi sosial pada usia ini dimulai dengan kemampuan bertepuk tangan, menyatakan keinginan, sudah mulai minum dengan cangkir, menirukan kegiatan orang, bermain bola atau lainnya dengan orang lain.

3)   Masa Anak (1-2 tahun)
Perkembangan adaptasi sosial masa anak dapat ditunjukan dengan adanya kemampuan membantu kegiatan dirumah, menyuapi boneka, mulai menggosok gigi serta mencoba mengenakan baju sendiri.
4)   Masa Prasekolah
Perkembangan adaptasi sosial pada masa prasekolah adalah adanya kemampuan bermain dengan permainan sederhana, menangis jika dimarahi, membuat permintaan sederhana dengan gaya tubuh, menunjukan   peningkatan   kecemasan   terhadap   perpisahan,  serta
 mengenali anggota keluarga (wong, 2000).












DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. A, ( 2008). Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta, Salemba Mesika.
 Rukiyah, A, Y. (2010). Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak  Balita. Jakarta, Trans Info Media.
 Soetjiningsing,  (1995). Tumbuh  Kembang  Anak. Jakarta, EGC.
Sujiono, B,  dkk. (2007).  Metode  Pengembangan Fisik. Jakarta, Universitas Terbuka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar