KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
A.
Teori Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah proses
peningkatan yang terjadi pada diri seseorang secara kuantitatif atau
peningkatan dalam hal ukuran, sedangkan perkembangan adalah suatu proses
perubahan pada kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh
kearah keadaan yang semakin terorganisasi dan terspesialisasi (Sujiono, 2007).
Menurut
Whaley dan Wong, pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah atau ukuran\ sel
tubuh yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ukuran dan berat seluruh bagian
tubuh (Supartini, Yupi : 2004). Tumbuh adalah proses
bertambahnya ukuran/ dimensi akibat penambahan jumlah atau ukuran sel dan
jaringan interseluler (Mansjoer, 2000 : 580). Pertumbuhan adalah suatu
peningkatan ukuran fisik keseluruhan atau sebagian yang dapat diukur, dimana
grafik pertumbuhan meliputi tinggi, berat badan dan diameter pada lipatan kulit
(Suriadi, 2001 : 1). Pertumbuhan adalah bertambah besar dalam aspek fisis
akibat multiplikasi sel dan bertambahnya jumlah zat interseluler (Hassan, 2007
: 387).
Menurut Whaley dan Wong,
perkembangan manitik beratkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari
tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui
proses maturasi dan pembelajaran (Supartini, Yupi: 2004).Perkembangan adalah
pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih komleks dalam pola
yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan
(Soetjiningsih:1998). Pengertian dari kembang (berkembang) adalah proses
pematangan/ maturasi fungsi organ tubuh termasuk berkembangnya kemampuan mental
intelegensi serta perilaku anak (Mansjoer, 2000:580). Perkembangan adalah suatu
rangkaian peningkatan keterampilan dan kapasitas untuk berfungsi (Suriadi,
2001:1). Perkembangan adalah digunakan untuk menunjukkan bertambahnya
ketrampilan dan fungsi yang kompleks dalam pengaturan neuromuskuler, berkembang
dalam mempergunakan tangan kanannya dan berbentuk pula kepribadiannya (Hassan,
2000:387).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Tumbuh Kembang:
1. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan
penting dalam menentukan tercapai dan tidaknya potensi yang sudah dimiliki.
Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal (lingkungan dalam
kandungan) dan lingkungan postnatal (lingkungan setelah bayi lahir).
a. Lingkungan Prenatal
Lingkungan prenatal merupakan lingkungan dalam kandungan,
mulai dari konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil,
lingkungan mekanis, zat kimia atau toksin, dan hormonal.
b. Lingkungan mekanis
Lingkungan mekanis adalah segala hal yang memengaruhi janin
atau posisi janin dalam uterus.
1) Radiasi dapat menyebabkan kerusakan
pada organ otak janin.
2) Infeksi dalam kandungan memengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan janin.
3) Kekurangan oksigen pada janin
mengakibatkan gangguan dalam plasenta sehingga kemungkinan bayi lahir dengan
berat badan kurang atau sering disebut dengan BBLR.
4) Faktor imunitas dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin
karena menyebabkan terjadinya abortus atau
karena
ikterus.
5) Stres dapat memengaruhi kegagalan
tumbuh kembang janin.
c. Zat kimia atau toksin
Hal ini berkaitan dengan penggunaan obat-obatan, alkohol,
atau kebiasaan merokok pada ibu hamil. Obat-obatan pada ibu hamil.
d. Hormonal
Hormon-hormon ini mencakup hormon sometotrofin, flasenta,
tiroid, dan insulin. Peran hormon somatotrofin atau hormon pertumbuhan, yaitu
disekresikan k meningkat kelenjar hipofisis janin sekitar minggu kesembilan dan
produksinya meningkat pada minggu ke dua puluh.Hormon tersebut berperan dalam
mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya
proliferasi sel kartilago dan sistem skeletal.Hormon yang kedua yang
mempengaruhi yaitu hormon plasenta atau human plasental laktogen yaitu berperan
dalam nutrisi plasenta pada bayi.Hormon selanjutnya yaitu hormon tiroid
berperan menstimulasi metabolisme tubuh. Hormon yang terakhir yang mempengaruhi
tumbuh kembang anak yaitu hormon glukokortikoid yaitu mempunyai fungsi
menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis (untuk memproduksi hormon
testoteron dan ovarium) selanjutnya hormon tersebut akan menstimulasi
perkembangan seks baik pada anak laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan
peran hormonnya (wong, 2000).
2. Faktor Herediter (genetik)
Faktor Herediter merupakan faktor
yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak
disamping faktor-faktor lain. Faktor Herediter merupakan bawaan, jenis kelamin,
ras, dan suku bangsa. Faktor ini dapat ditentukan dengan intensitas kecepatan
dalam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan,
usia pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
Pertumbuhan dan perkembangan
dengan jenis kelamin laki-laki setelah
lahir akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan
bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan akan
mengalami pertumbuhan yang lebih cepat ketika mereka mencapai masa pubertas.
Ras atau suku bangsa memiliki peran
dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, hal ini dapat dilihat pada
suku bangsa tertentu yang memiliki kecenderungan lebih besar seperti orang asia
lebih pedek dan kecil dibandingkan dengan eropa dan yang lainnya.
B. Tahap
Tumbuh Kembang Anak
Proses tumbuh kembang dimulai sejak
sel telur dibuahi dan akan berlangsung sampai dewasa. Tahap-Tahap Perkembangan
dan Pertumbuhan:
1) Masa Prenatal
Masa
prenatal terdiri atas dua fase, yaitu fase embrio dan fase fetus. Pada
fase
embrio, pertumbuhan dapat diawali mulai dari konsepsi hingga 8 minggu pertama
yang dapat terjadi pertumbuhan yang cepat dari ovum menjadi suatu organisme dan
terbentuknya manusia. Pada minggu ke-2, terjadi pembelahan sel dan pemisahan jaringan
antara endoterm dan ektodrm. Pada minggu ke-3 terbentuk lapisan mesoderm. Pada
masa ini sampai usia 7 minggu belum tampak adanya gerakan yang berarti
melainkan hanya terdapat denyut jantung janin, yaitu sudah mulai dapat
berdenyut sejak 4 minggu. Pada fase fetus terjadi sejak usia 9 minggu hingga
kelahiran, sedangkan minggu ke-12 sampai ke-40 terjadi peningkatan fungsi
organ, yaitu bertambahnya ukuran panjang dan berat badan terutama pertumbuhan
serta penambahan jaringan subkutan dan jaringan otot.
2) Masa Postnatal
a. Masa Neonatus (0-28 hari)
Masa
ini merupakan masa terjadinya kehidupan yang baru dalam ekstrauteri, yaitu
adanya proses adaptasi semua sistem organ tubuh. Proses adaptasi dari organ
tersebut dimulai dari aktifitas pernapasan yang disertai pertukaran gas dengan
frekuensi pernapasan antara 35-50 kali permenit, penyesuaian denyut jantung
antara 120-160 kali per menit dengan ukuran jantung lebih besar apabila
dibandingkan dengan rongga dada. Perubahan selanjutnya sudah dimulai proses
pengeluaran tinja yang terjadi dalam waktu 24 jam yang didalamnya terdapat
mekonium. Hal tersebut akan dilanjutkan dengan proses defekasi, seperti pada
proses ekskresi dari apa yang dimakan (ASI). Frekuensi defekasi tersebut dapat
berkisar antara 3-5 kali seminggu (bergantung pada kondisi bayi dan susu yang
dikonsumsi, apakah ASI ataukah susu formula).
Perubahan
pada fungsi organ yang lainnya adalah ginjal yang belum sempurna, urine masih
mengandung sedikit protein dan pada minggu pertama akan dijumpai urine berwarna
merah muda karena banyak mengandung senyawa urat. Keadaan fungsi hati pun masih
relatif imatur dalam memproduksi faktor pembekuan, sebab belum
terbentuknya usus yang
akan berperan dalam absorpsi vitamin K dan
imunologi untuk kekebalan bayi.
b. Masa Bayi
Masa
bayi ini dibagi menjadi dua tahap perkembangan. Tahap pertama (antara usia 1-12
bulan) yaitu pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini dapat berlangsung
secara terus menerus, khususnya dalam peningkatan susunan saraf. Tahap kedua
(usia 1-2 tahun) yaitu kecepatan pertumbuhan pada masa ini mulai menurun dan
terdapat percepatan pada perkembangan motorik.
c. Masa Prasekolah
Perkembangan
pada masa ini dapat berlangsung stabil dan masih terjadi peningkatan
pertumbuhan serta perkembangan, khususnya pada aktifitas fisik dan kemampuan
kognitif.
d. Masa Sekolah
Perkembangan
masa sekolah ini lebih
cepat dalam kemampuan
fisik dan kognitif dibandingkan
dengan masa prasekolah.
e. Masa Remaja
Pada
tahap perkembangan remaja terjadi perbedaan pada perempuan dan laki-laki. Pada
umumnya wanita 2 tahun lebih cepat untuk masuk ke dalam tahap remaja atau masa
pubertas bila dibandingkan dengan anak laki-laki dan perkembangan ini
ditunjukan pada perkembangan pubertas.
3.
PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS DAN MOTORIK
KASAR
Perkembangan
motorik halus pada anak antara lain:
1) Masa neonatus (0-28 hari)
Perkembangan motorik halus pada masa ini dimulai dengan
adanya kemampuan untuk mengikuti garis tengah bila kita memberikan respons
terhadap gerakan jari atau tangan.
2) Masa Bayi (28 hari-1 tahun
a) Usia 1-4 bulan
Perkembangan motorik halus pada usia
ini adalah dapat melakukan hal-hal seperti memegang suatu objek, mengikuti
objek dari sisi ke sisi, menvoba memegang dan memasukan benda kedalam mulut,
memegang benda tapi terlepas, memerhatikan tangan dan kaki, memegang benda
dengan kedua tangan, serta menahan benda ditangan walaupun hanya sebentar.
b) Usia 4-8 bulan
Perkembangan motorik halus pada
usia ini adalah sudah mulai
mengamati
benda, menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang, mengekplorasi
benda yang sedang dipegang, mengambil objek dengan tangan tertangkup, mampu
menahan kedua benda di kedua tangan secara simultan, menggunakan bahu dan
tangan sebagai satu kesatuan, serta memindahkan objek dari satu tangan ketangan
yang lain.
c) Usia 8-12 bulan
Perkembangan motorik halus pada usia
ini adalah mencari atau merainh benda kecil; bila diberi kubus mampu
memindahkan, mengambil, memegang dengan telunjuk dan ibu jari, membenturkannya,
serta meletakkan benda atau kubus ke tempatnya.
3) Masa Anak (1-2 tahun)
Perkembangan motorik halus pada usia ini dapat ditunjukan
dengan adanya kemampuan dalam mencoba, menyusun, atau membuat menara pada
kubus.
4) Masa Prasekolah
Perkembangan motorik halus dapat dilihat pada anak, yaitu
mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga
bagian, memilih garis yang lebih panjang dan menggambar orang, melepas objek
dengan jari lurus, mampu menjepit benda, melambaikan tangan, menggunakan
tanggannya untuk bermain, menempatkan objek kedalam wadah, makan sendiri, minum
dari cangkir dengan bantuan, menggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan
jari, serta membuat coretan diatas kertas(wong,2000)
f. Perkembangan Motorik Kasar
1) Masa Neonatus (0-28 hari)
Perkembangan
motorik kasar yang dapat dicapai pada usia ini diawali dengan tanda gerakan
seimbang pada tubuh dan mulai mengangkat kepala.
2) Masa Bayi (28 hari-1 tahun)
a. Usia 1-4 bulan
Perkembangan
motorik kasar pada usia ini dimulai dengan kemampuan mengangkat kepala saat
tegkurap, mencoba duduk sebentar dengan ditopang, mampu duduk dengan kepala
tegak, jatuh terduduk dipangkuan ketika disokong pada posisi berdiri, kontrol
kepala sempurna, mengangkat kepala sambil berbaring terlentang, berguling dari
terlentang ke miring, kesisi lengan dan tungkai kurang fleksi, dan berusaha
untuk merangkak.
b. Usia 4-8 bulan
Usia
perkembangan motorik kasar awal bulan ini dapat dilihat pada pertumbuhan dalam
aktivitas, seperti posisi telungkup pada alas dan sudah mulai mengangkat kepala
dengan melakukan gerakan menekan kedua tangannya. Pada bulan ke empat sudah
mampu memalingkan kepala ke kanan dan kiri, duduk dengan kepala tegak,
membalikan badan, bangkit dengan kepala tegak, menumpu beban pada kaki dengan
lengan berayun kedepan dan kebelakang, berguling dari terlentang dan tengkurap,
serta duduk dengan bantuan dalam waktu yang singkat.
c. Usia 8-12 bulan
Perkembangan
motorik kasar dapat diawali dengan duduk tanpa pegangan, berdiri dengan
pegangan, bangkit lalu berdiri, berdiri 2 detik dan berdiri sendiri.
3) Masa Anak (1-2 tahun)
Dalam
perkembangan masa anak terjadi perkembangan motorik kasar secara signifikan.
Pada masa ini anak sudah mampu melangkah dan berjalan dengan tegak. Sekitar
usia 18 bulan anak mampu menaiki tangga dengan cara 1 tangan dipegang. Pada
akhir tahun kedua sudah mampu berlari-lari kecil, menendang bola, dan mulai
mencoba melompat.
4) Masa Prasekolah
Perkembangan
motorik kasar masa prasekolah ini dapat diawali
dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu
kaki selama satu sampai lima detik, melompat dengan satu kaki, berjalan dengan
tumit ke jari kaki, menjelajah, membuat posisi merangkak, dan berjalan dengan
bantuan (wong, 2000).
c. Perkembangan Bahasa
1) Masa Neonatus (0-28 hari)
Perkembangan
bahasa masa neonatus ini dapat ditunjukan dengan adanya kemampuan bersuara
(menangis) dan bereaksi terhadap suara atau bel.
2) Masa Bayi (28 hari- 1 tahun)
a) Usia 1-4 bulan
Perkembangan
bahasa pada usia ini ditandai dengan adanya kemampuan bersuara dan tersenyum,
mengucapkan huruf hidup, berceloteh,
mengucapkan kata “oh/ah”,
tertawa dan berteriak,
mengoceh spontan, serta bereaksi
dengan mengoceh.
b) Usia 4-8 bulan
Perkembangan
bahasa pada usia ini adalah dapat menirukan bunyi atau kata-kata, menoleh ke
arah suara atau sumber bunyi, tertawa, menjerit, menggunakan vokalisasi semakin
banyak, serta menggunakan kata yang terdiri atas dua suku kata dan dapat
membuat dua bunyi vokal yang bersamaan seperi “ba-ba”.
c) Usia 8-12 bulan
Perkembangan
bahasa
pada usia ini
adalah mampu
mengucapkan kata “papa” dan “mama” yang belom
spesifik, mengoceh hingga mengatakannya secara spesifik, serta dapat
mengucapkan satu samapai dua kata.
3) Masa Anak (1-2 tahun)
Perkembangan
bahasa masa anak ini adalah dicapainya kemampuan bahasa pada anak yang mulai
ditandai dengan anak mampu memiliki sepuluh perbendaharaan kata; tingginya kemampuan
meniru, mengenal, dan responsip terhadap orang lain; mampu menujukan dua
gambar; mampu mengkombinasikan kata-kata; seta mulai mampu menunjukan lambaian
anggota badan.
4) Masa Prasekolah
Perkembangan
bahasa diawali dengan adanya kemampuan menyebutkan hingga empat gambar;
menyebutkan satu hingga dua warna; menyebutkan kegunaan benda; mengitung;
mengartikan dua kata; mengerti empat kata depan; mengerti beberapa kata sifat
dan jenis kata lainnya; menggunakan bunyi untuk mengidentifikasi objek, orang,
dan aktivitas; menirukan berbagaibuny kata; memahami arti larangan; serta
merespons panggilan orang dan anggota keluarga dekat.
d. Perkembangan Prilaku atau adaptasi
social
1) Masa Neonatus (0-28 hari)
Perkembangan
adaptasi sosial atau prilaku masa neonatus ini dapat ditunjukan dengan adanyab
tanda-tanda tersenyum dan mulai menatap muka untuk menegnali seseorang.
2) Masa Bayi (28 hari-1 tahun)
a) Usia 1-4 bulan
Perkembangan
adaptasi sosial pada usia ini dapat diawali dengan kemampuan mengamati
tangannya: tersenyum spontan dan membalas senyum bila di ajak tersenyum;
mengenali ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, dan kontak; tersenyum
pda wajah manusia; waktu tidur dalam sehari lebih sedikit dari pada waktu
terjaga; membentuk siklus tidur bangun; menangis bila terjadi sesuatu yang
aneh; membedakan wajah-wajah yang dikenal dan tidak dikenal; senang menatap
wajah-wajah yang dikenalnya; serta terdiam bila ada orang yang tak
dikenal
(asing).
b)
Usia 4-8 bulan
Perkembangan
adaptasi sosial pada usia ini antara lain anak merasa takut dan terganggu
dengan keberadaan orang asing, mulai bermain dengan mainan, mudah frustasi,
serta memukul-mukul lengan dan kaki jika sedang kesal.
c) Usia 8-12 bulan
Perkembangan
adaptasi sosial pada usia ini dimulai dengan kemampuan bertepuk tangan,
menyatakan keinginan, sudah mulai minum dengan cangkir, menirukan kegiatan
orang, bermain bola atau lainnya dengan orang lain.
3) Masa Anak (1-2 tahun)
Perkembangan
adaptasi sosial masa anak dapat ditunjukan dengan adanya kemampuan membantu
kegiatan dirumah, menyuapi boneka, mulai menggosok gigi serta mencoba
mengenakan baju sendiri.
4) Masa Prasekolah
Perkembangan
adaptasi sosial pada masa prasekolah adalah adanya kemampuan bermain dengan
permainan sederhana, menangis jika dimarahi, membuat permintaan sederhana
dengan gaya tubuh, menunjukan
peningkatan kecemasan terhadap
perpisahan, serta
mengenali anggota keluarga (wong, 2000).
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A. A, ( 2008). Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta, Salemba
Mesika.
Rukiyah, A, Y. (2010). Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Jakarta, Trans Info
Media.
Soetjiningsing, (1995). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta, EGC.
Sujiono,
B, dkk. (2007). Metode
Pengembangan Fisik. Jakarta, Universitas Terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar